Elektabilitas Gibran tak Miliki Daya Ungkit Elektoral hanya 5,88 Persen
ftnews.co.id, Jakarta— Peneliti Ipsos Public Affairs Arif Nurul Imam menilai putusan Mahkamah Konstitusi terkait syarat calon presiden dan calon wakil presiden berpengalaman sebagai kepala daerah, membuka peluang Gibran Rakabuming Raka mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2024
“Putusan MK tentang pengalaman sebagai kepala daerah bisa maju dalam pilpres memberi peluang bagi Gibran untuk maju bersama Prabowo,” kata Arif kepada ANTARA.
Namun, dia mengungkapkan, berdasarkan hasil survei Ipsos, elektabilitas Gibran tidak memiliki daya ungkit elektoral karena hanya 5,88 persen.
“Gibran tidak memiliki daya ungkit elektoral daripada tokoh-tokoh lain, seperti Erick Thohir, Sandiaga Uno, dan Mahfud MD,” ujarnya.
Berdasarkan data Ipsos terkait kandidat bakal Cawapres pendamping Prabowo menunjukkan elektabilitas Erick Thohir (24,86 persen), Ridwan Kamil (12,74 persen), Mahfud MD (12,43 persen), Sandiaga Uno (12,33 persen), dan Gibran (5,88 persen).
Karena itu, dia mengingatkan apabila Prabowo berpasangan dengan Gibran di Pilpres 2024, maka Koalisi Indonesia Maju (KIM) harus kerja keras dalam menyusun strategi untuk mendapatkan dukungan masyarakat.
Prabowo dan Ganjar Bersaing Ketat
Di bagian lain hasil riset Ipsos Public Affairs menyebutkan terjadi persaingan ketat antara Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo jelang pendaftaran di KPU RI.
“Prabowo Subianto memperoleh elektabilitas sebesar 30,13 persen, sementara Ganjar Pranowo elektabilitasnya sebesar 29,77 persen. Sedangkan Anies Baswedan sebanyak 20 persen, dan yang masih belum menentukan pilihan sebanyak 20,10 persen,†papar Arif.
Dia menyatakan hasil survei ini tentu menarik dan penting karena tinggal hitungan hari dibuka waktu pendaftaran bacapres dan bacawapres ke KPU RI.
“Apalagi, dua Bacapres Ganjar dan Prabowo hingga kini belum menentukan siapa yang akan dijadikan calon wakil presiden,” ujarnya.
Arif mengatakan survei itu memotret dukungan dari dua organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hasilnya, kata dia, jamaah NU dan Muhammadiyah tersebar di semua calon karena tidak ada yang memperoleh limpahan suara mayoritas.
“Pemilih yang merasa dekat dengan Muhammadiyah menyalurkan aspirasi kepada Anies Baswedan 38 persen, Prabowo Subianto 27,93 persen, dan Ganjar Pranowo 20,72 persen,†ungkapnya.
Sementara, pemilih yang merasa dekat dengan NU hampir sama kuat mendukung Prabowo Subianto 33,33 persen, Ganjar Pranowo 31,51 persen, dan Anies Baswedan 18,32 persen.
Survei digelar 1-10 Oktober di 34 provinsi dengan 2.039 responden. Survei dilaksanakan dengan tatap muka menggunakan aplikasi Ipsos Ifield, yang merupakan standar internasional. Adapun “margin of error” sebesar lebih kurang 2,19 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Arif menjelaskan Ipsos merupakan anggota Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) sekaligus anggota Association for Global Research Agency Worldwide (ESOMAR), yakni asosiasi riset internasional yang melakukan audit secara periodik terhadap para anggotanya.
Ipsos merupakan lembaga riset internasional yang sangat berpengalaman di dunia global. Lembaga yang berkantor pusat di Prancis ini beroperasi di 90 negara, selain dikenal melakukan riset pasar juga melakukan riset sosial politik, termasuk di Indonesia.***


