TII: Debat Jangan Diisi Sekadar Gimik Gemoy, Curhat Tekanan atau Pamer Bersilat Lidah

Arfianto Purbolaksono, Manajer Riset dan Program TII /foto: instagram The Indonesian Institute

FTNews, Jakarta— Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute (TII) Arfianto Purbolaksono mengatakan debat Capres-Cawapres Pemilu 2024 bukan merupakan panggung untuk bersilat lidah atau memamerkan retorika di hadapan masyarakat pemilih.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, Arfianto menjelaskan debat Capres-Cawapres merupakan kegiatan yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memfasilitasi pasangan calon (Paslon) dalam menyampaikan arah kebijakan tentang visi dan misi Indonesia ke depan, sehingga gimik politik tidak perlu dilakukan.

“Dari debat itu, diharapkan masyarakat dapat mengetahui secara gamblang gagasan yang ditawarkan oleh para calon presiden dan calon wakil presiden,” kata Arfianto sebagaimana dilansir Antara

Dia menambahkan tiga pasangan calon peserta Pilpres 2024 harus mampu menawarkan program kerja mereka secara terukur dan tidak mengambang, sehingga masyarakat mengetahui apa yang akan diperoleh ketika memilih salah satu Paslon.

Semua Paslon harus mengedepankan kampanye yang informatif dan edukatif agar mampu mencerahkan serta memberdayakan masyarakat lebih baik.

“Debat jangan diisi oleh sekadar gimik gemoy, curhat adanya tekanan, atau memamerkan kemampuan bersilat lidah maupun berbalas pantun,” tegasnya.

Dia juga meminta KPU dapat membuat format debat yang mampu menyentuh dan menggali permasalahan yang terjadi saat ini, termasuk isu-isu sensitif dan krusial, sehingga para kandidat bisa menyampaikan solusi secara konkret.***

Tutup